Kamis, 17 Mei 2012

Kerajaan Islam di Sulawesi


Kerajaan Makasar
Kerajaan Makasar sebenamya merupakan dua kerajaan di Sulawesi Selatan yang terjalin dengan sangat baik, yaitu antara Kerajaan Gowa dan Tallo.
Makassar sendiri sebenarnya merupakan ibukota Kerajaan Gowa yang juga dikenal dengan Ujung Pandang.

•    Perkembangan secara politik

Kerajaan Makassar terletak di perairan timur Indonesia, yaitu di daerah semenanjung barat daya Sulawesi. Pada masanya Kerajaan Makassar merupakan kerajaan maritim yang terkenal. Sebagai penghasil rempah-rempah, Kerajaan Makassar membentuk jalur perdagangan laut Nusantara yang sangat terkenal pada abad ke 16 sampai 17 M. Kerajaan Makassar menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Ternate di Maluku.

Sebelum abad ke 16, raja-raja Makassar belum tersentuh dakwah Islam. Setelah kedatangan Dato’ Ri Bandang, seorang ulama dari Sumatra, Kerajaan Makassar kemudian berkembang menjadi Kerajaan Islam.

Raja I Kerajaan Makassar yang memeluk agama Islam adalah Sultan Alauddin yang berkuasa pada tahun 1591-1638 M. Sebelumnya Sultan Alauddin memiliki nama asli Karaeng Ma’towaya Tumamenanga ri Agamanna. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan maritim. Dengan majunya perdagangan dan pelayaran, kehidupan rakyat Kerajaan Makassar mengalami kemajuan.

Pengganti Sultan Alauddin adalah Muhammad Said yang berkuasa pada tahun 1639-1653 M. Tidak banyak catatan sejarah yang ditinggalkan mengenai masa pemerintahan Muhammad Said ini. Pengganti Muhammad Said yang menjadi raja Kerajaan Makassar berikutnya adalah Sultan Hasanuddin yang berkuasa pada tahun 1653-1669 M.

Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Makassar mengalami puncak kejayaan. Sultan Hasannuddin melakukan ekspansi wilayah-wilayah lain ke kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi Selatan, seperti Luwu, Wajo, Soppeng dan Bone. Setelah berhasil menguasai wilayah-wilayah tersebut, Sultan Hasanuddin bermaksud menguasai jalur perdagangan Indonesia bagian timur yang saat itu dikuasai oleh VOC Belanda terutama di daerah Maluku. Pertempuran yang terjadi antara Kerajaan Makassar dan Belanda di Maluku, mempengaruhi kegiatan perdagangan Belanda di Batavia.

Belanda berusaha menghentikan serangan-serangan Kerajaan Makassar dengan mengajak Kerajaan Bone untuk bersekutu. Setelah Kerajaan Bone dijanjikan akan diberi kemerdekaan, maka raja Bone, yaitu Aru Palaka membantu Belanda dalam menghadapi Kerajaan Makassar. Pada tahun 1667 M, Belanda dengan bantuan Kerajaan Bone berhasil memaksa Sultan Hasanudin menandatangani Perjanjian Bongaya yang isinya:
i.     Belanda mendapatkan hak monopoli dagang di Makassar
ii.    Belanda diperbolehkan mendirikan benteng Rotterdam di Makassar
iii.   Makassar harus melepaskan kerajan-kerajaan yang ditaklukkannya seperti Soppeng dan Bone serta      mengakui Aru Palaka sebagai Raja Bone

        Karena kegigihannya dalam melawan Belanda inilah, Sultan Hasanuddin dijuluki sebagai Ayam Jantan dari Timur. Sultan Hasanuddin kemudian turun tahta pada tahun 1669 M digantikan oleh putranya, Mapasomba. Meneruskan perjuangan sang ayah, Mapasomba berusaha melakukan perlawanan kepada Belanda, namun ia mengalami kekalahan. Akhirnya pasukan Kerajaan Makassar berhasil dipukul mundur dan Belanda  pun menguasaai Kerajaan Makassar dan jalur perdagangannya.

•    Perkembangan secara ekonomi

Sebagaimana kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara lainnya, Kerajaan Makassar adalah negara maritim. Sebagai kerajaan dengan memiliki wilayah kepulauan, para pelaut Makassar terkenal sangat tangguh. Bahkan mereka menguasai jalur perdagangan dan pelayaran di wilayah Nusantara. Hal ini ditunjang juga dengan keahlian masyarakat Makassar dalam menesain berbagai bentuk kapal yang kuat sekaligus indah. Kapal-kapal tersebut dikenal dengan nama Pinisi, Lambo dan Padewalang yang dapat mengarungi perairan Nusantara bahkan ke ke berbagai wilayah di luar Nusantara, seperti India dan Cina. Kerajaan Makassar dalam mengatur kegiatan perdagangan di wilayahnya, memiliki aturan yang kenal dengan nama Ade Allopiloping Bucaranna Pabbahi’e.

Sementara itu, letaknya yang berdekatan dengan Maluku, yang merupakan pusat penghasil rempah-rempah menyebabkan Kerajaan Makassar menjadi pelabuhan penyalur dan sebagai gudang penyimpanan. Kondisi strategis inilah yang menyebabkan Kerajaan Makassar berniat mengusir Belanda dari Maluku pada awal abad ke -17 M.

•    Perkembangan secara budaya

Serupa dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara, Kerajaan Islam Makassar juga mengadopsi hukum dan ajaran agama Islam dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Pemerintahan Kerajaan Makassar juga menjalin hubungan yang erat dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara, seperti Kerajaan Demak dan Kerajaan Malaka.

Sebagai bangsa Maritim, masyarakat Makassar memiliki keahlian membuat sarana pelayaran. Kapal-kapal Kerajaan Makassar tidak hanya dibuat untuk berdagang saja, akan tetapi juga dijadikan sebagai kapal untuk berperang di laut. Kapal-kapal khas makassar seperti Pinisi bahkan masih digunakan sampai sekarang. Teknologi perkapalan Makassar menunjukkan salah satu sisi yang tampak dari ketinggian budaya masyarakat Makassar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar