Perkembangan Islam di Indonesia
Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia tidak terlepas dari peranan para pedagang, khususnya para pedagang dari Gujarat dan Persia. Mereka datang ke daerah-daerah di Indonesia untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam. Dari interaksi pedagang muslim dengan pedagang pribumi ini, kemudian dakwah Islam berkembang. Dakwah Islam kemudian juga sampai kepada para bangsawan dan penduduk asli lainnya, agama Islam kemudian berkembang dari perkampungan kecil ke perkampungan besar hingga menjadi sebuah kerajaan.
Menurut catatan sejarah, Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Saat itu, dengan wilayahnya yang sangat strategis dalam jalur perdagangan internasional dan Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan yang banyak disinggahi para pedagang dari berbagai negara. Kerajaan Islam ini mengalami perkembangan, sampai kemudian pamornya menjadi turun setelah munculnya Pelabuhan Malaka di Semenanjung Malaya. Pada abad ke-14 M, Malaka telah berkembang menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Para pedagang dari berbagai negara, termasuk dari Gujarat dan Persia menjadikan Malaka sebagai tempat transit utama, untuk kemudian melanjutkan dengan mengunjungi wilayah-wilayah lain di Indonesia.
Demikian juga para pedagang pribumi, seperti dari daerah Jawa dan juga Maluku, menjadikan Malaka sebagai tempat tujuan mereka untuk berdagang. Dari interaksi ini pula, antara pedagang muslim dan pedagang pribumi yang berasal dari Jawa, Islam kemudian menyebar ke tanah Jawa.
Perkembangan Islam di Jawa, relatif cepat seiring dengan mulai mundurnya kejayaan kerajaan Majapahit yang pada saat itu merupakan kerajaan terbesar di Pulau Jawa. Komunitas muslim yang ada di pulau Jawa kemudian mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, yaitu Kerajaan Demak. Dalam perkembangannya, Kerajaan Demak kemudian tumbuh menjadi pusat penyebaran agama Islam di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di Maluku, Sulawesi dan Kalimantan. Dari sinilah, kemudian Islam menyebar dan berkembang ke seluruh wilayah-wilayah di Indonesia.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan agama Islam dapat menyebar dan berkembang pesat di Indonesia, diantaranya adalah faktor-faktor berikut ini:
1) Syarat untuk menjadi seorang muslim atau untuk masuk ke dalam Islam, sangatlah mudah dan sederhana, yaitu dengan berikrar secara lisan mengucapkan kalimat syahadat.
2) Dalam ajaran agama Islam, tidak ada kasta atau perbedaan derajat bagi setiap muslim. Semua muslim dianggap sama dihadapan Allah SWT. Ajaran Islam ini sangatlah berbeda bahkan bertentangan dengan ajaran agama yang mereka anut sebelumnya, bahwa manusia diciptakan dengan takdir kasta atau derajat masing-masing, bisa kasta Brahmana, kasta Ksatria, kasta Waisya atau Sudra. Kedua kasta terakhir inilah yang merupakan kasta terendah, yang segera menyambut dakwah Islam di Indonesia.
3) Penyebaran dakwah Islam dilakukan dengan cara yang simpatik dan damai serta relatif tanpa kekerasan.
4) Sifat khas masyarakat Indonesia yang ramah tamah, mudah bergaul sehingga membuka peluang untuk memiliki hubungan dan jalinan yang erat dengan bangsa lain. Dengan demikian, adanya hubungan yang dekat, memudahkan dakwah Islam untuk lebih diterima penduduk pribumi.
5) Upacara-upacara keagamaan Islam, baik dalam hal ibadah dan muamalah yang sederhana dan tidak mempersulit, sehingga menarik minat masyarakat Indonesia.
Perkembangan Islam di Indonesia dimulai sejak abad ke-7 M sampai sekitar abad ke-16 M, di beberapa wilayah di Indonesia, yaitu:
1. Pulau Sumatra
Pada abad ke-7 M, daerah Sumatra bagian utara adalah pusat perdagangan karena letaknya yang sangat strategis yang berada di jalur perdagangan internasional. Banyak pedagang-pedagang dari Arab yang berlabuh di daerah tersebut. Letak pelabuhan yang ada di ujung utara Pulau Sumatera, menyebabkan pula daerah ini sangat strategis untuk singgah sambil menunggu datangnya angin musim dari timur laut menuju barat. Waktu singgah tersebut dimanfaatkan oleh para pedagang sekaligus untuk menyebarkan agama Islam.
Sementara itu di Sumatera bagian selatan, terdapat Kerajaan Sriwijaya yang mulai kemunduran terutama pada abad ke-13. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Kerajaan Samudra Pasai untuk memperoleh pengaruh dan kekuasaan serta muncul menjadi kekuatan ekonomi baru. Pelabuhan di Kerajaan Samudra Pasai memberi kesempatan kepada para pedagang muslim untuk menperoleh keuntungan perdagangan. Jalur perdagangan di Selat Malaka berkembang semakin ramai dan mempengaruhi sampai ke arah Malaka dan Pulau Jawa. Seiring dengan perkembangan kekuatan ekonomi Kerajaan Samudra Pasai ini, penyebaran Islam semakin meluas.
2. Pulau Jawa
Penyebaran agama di Pulau Jawa diperkirakan berasal dari Malaka, meskipun waktunya tidak diketahui secara pasti. Bukti tertua tentang agama Islam di Pulau Jawa berasal dari batu nisan Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik yang berangka tahun 1082 M. Namun, ini bukan berarti bahwa pada saat itu Islam sudah masuk di daerah Jawa Timur.
Demikian halnya dengan adanya komunitas Arab yang hidup di Sumatera pada awal abad ke-12 M, belum tentu berarti pada saat itu telah terjadi penyebaran agama Islam. Setelah akhir abad ke-13 M, bukti-bukti adanya penyebaran agama Islam banyak ditemukan di Pulau Jawa. Hal ini dapat dilihat dari penemuan beberapa batu nisan bercorak Islam di Troloyo, Trowulan, Gresik. Dalam berita Ma-Huan pada tahun 1416 M terdapat keterangan tentang adanya orang-orang muslim yang tinggal di kota pelabuhan Gresik. Hal ini membuktikan bahwa komunitas masyarakat muslim mulai berkembang baik di Jawa Timur, terutama didaerah pelabuhan-pelabuhan.
Pada saat Kerajaan Majapahit mulai mengalami masa kemunduran pada awal abad ke 15, kota-kota pelabuhan seperti di Tuban dan Gresik muncul sebagai pusat penyebaran agama Islam. Dari kedua kota ini, pengaruh agama Islam menyebar hingga ke kota-kota pelabuhan di belahan timur Indonesia, termasuk Maluku. Kota pelabuhan lainnya, yang berada di Pulau Jawa seperti Demak, juga berkembang menjadi pusat penyebaran agama Islam. Pengaruh Islam dari Demak kemudian menyebar ke daerah pesisir utara Jawa Barat yang merupakan daerah perdagangan yang sangat ramai. Kota-kota pelabuhan di Jawa Barat seperti Cirebon, Sunda Kelapa dan Banten sangat potensial sebagai daerah pemasaran hasil bumi. Bagi Demak, usaha menanamkan pengaruh Islam di pesisir utara Jawa Barat tidak dapat dipisahkan dari tujuan politik maupun ekonominya. Dalam pemerintahan, pengaruh ini terlihat pada pengunaan gelar sultan dan panata agama bagi raja. Raja juga berperan mengatur dan melindungi agama.
3. Pulau Kalimantan, Sulawesi dan Maluku
Penyebaran agama Islam di Pulau Kalimantan dapat diketahui dari Hikayat Banjar milik Kerajaan Banjar. Penyebaran agama Islam di daerah ini dilatar belakangi oleh adanya kepentingan politik Kerajaan Demak dalam konflik antara Kerajaan Banjar dan Kerajaan Daha.
Sementara itu, penyebaran agama Islam di daerah Maluku dan Sulawesi berjalan dengan damai. Proses ini tidak dapat dipisahkan dari terjalinnya jalur hubungan dan pelayaran internasional Malaka-Jawa-Maluku. Pengaruh agama Islam diperkirakan masuk ke Maluku pada abad ke-14 M. Adapun di Sulawesi, terutama bagian selatan, agama Islam diperkirakan masuk pada abad ke-16 M. Di daerah ini, penyebaran agama Islam terjadi melalui konversi pusat kekuasaan (istana/keraton). Konversi agama dijalankan dengan pusat kekuasaan yang telah ada.
Showing posts with label Sejarah Kerajaan Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Kerajaan Islam. Show all posts
Tuesday, May 22, 2012
Monday, May 21, 2012
Cara-cara Masuknya Islam di Indonesia
Cara-cara Masuknya Islam di Indonesia
Islam disebarkan melalui jalan damai dan jalan militer. Namun di Indonesia, Islam masuk lebih melalui jalan damai atau melalui jalan berdakwah. Secara umum, Islam masuk ke Indonesia disampaikan dengan jalan damai melalui banyak cara, yaitu: lewat perdagangan, pernikahan, pendidikan serta budaya.
1. Penyebaran Islam melalui perdagangan
Agama Islam dibawa ke Indonesia oleh para pedagang. Selain melakukan transaksi perdagangan, para pedagang pun memanfaatkan waktu berinteraksi dengan penduduk asli dengan pergaulan sehari-hari saat singgah ke suatu daerah atau suatu wilayah di Indonesia. Para pedagang ini, menurut sumber catatan yang ada, adalah para saudagar muslim yang berasal dari Gurajat, Arab, Persia.
Masuknya Islam ke Indonesia melalui perdagangan terjadi pada abad ke 7 M sampai abad ke 16 M, yaitu sejalan dengan ramainya lalu lintas perdagangan laut internasional. Ajaran Islam ini diterima oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir pantai utara. Melalui saudagar inilah agama Islam berkembang pesat ditandai dengan adanya kerajaan Islam di pesisir pantai.
2. Penyebaran Islam melalui pernikahan
Para pedagang muslim yang datang ke Indonesia (pedagang Gurajat, Arab dan Persia) ada yang sekedar berdagang kemudian kembali ke negerinya dan ada pula yang menetap di Indonesia. Sumber-sumber Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan muslim dipesisir pantai Sumatra. Dari perkampungan ini para penganut Islam berinteraksi dan berasimilasi dengan penduduk pribumi sembari menyebarkan agama Islam. Selain menetap, mereka juga menikah dengan wanita-wanita Indonesia terutama putri raja dan bangsawan. Karena pemikahan itulah maka banyak keluarga raja bangsawan masuk Islam.
Perkawinannya dilangsungkan secara Islami. Di mana sebelum perkawinan berlangsung, para wanita penduduk asli terlebih dahulu masuk Islam dengan menjadi seorang mualaf. Dengan perkawinan ini lingkungan Islam makin luas, kelompok kecil masyarakat muslim ini lambat laun semakin besar dan berkembang dari komunitas kecil menjadi komunitas besar yang akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
3. Penyebaran Islam melalui pengajaran dan pendidikan
Penyebaran Islam melalui pendidikan dan pengajaran adalah dengan didirikannya pesantren oleh para ulama. Selain datangnya para pemuda dari berbagai penjuru wilayah untuk belajar di pesantren tersebut, pesantren ini keberadaannya juga sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat sekitar pesantren tersebut. Masyarakat menjadi tunduk atau taat dengan para kiai atau ulama di tempat tersebut, dan memudahkan dakwah Islam menjadi lebih diterima lagi di masyarakat.
Para wali dan ulama mendirikan pondok-pondok pesantren, hingga banyak pemuda-pemuda dari daerah dan dari berbagai macam kalangan masyarakat banyak menerima agama Islam. Setelah selesai, mereka menjadi mubaligh, mendirikan pondok pesantren di daerah mereka sendiri-sendiri.
4. Penyebaran Islam melalui akulturasi dan asimilasi kebudayaan
Terbukanya masyarakat Indonesia terhadap kedatangan Islam, salah satunya dipengaruhi oleh toleransi yang begitu tinggi yang diberikan oleh para ulama kepada budaya atau tradisi setempat yang sebelumnya sudah ada terlebih dahulu. Bahkan tak jarang, budaya setempat dijadikan sarana untuk menyebarkan dakwah Islam. Misalnya, wayang yang sebelumnya merupakan tradisi agama Hindu di Jawa, kemudian dijadikan sarana untuk mengenalkan tentang ajaran Islam melalui pengubahan cerita dan para tokoh wayang yang dilakonkan.
5. Penyebaran Islam melalui tasawuf
Penyebaran Islam yang juga dipakai oleh para ulama adalah melalui sarana tasawuf. Tasawuf adalah jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tasawuf lebih memudahkan orang yang telah memiliki dasar ketuhanan yang lain untuk mengerti dan memahami ajaran Islam. Beberapa ulama penyebar tasawuf adalah Hamzah Fansuri, Syamsudin, Syeik Abdul Shamad dan Nuruddin ar Raniri.
Berbagai sarana yang dipakai para ulama untuk menyebarkan dakwah Islam di Indonesia inilah yang banyak memberikan pengaruh atas penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia. Ditambah dengan semangat luar biasa yang dipegang oleh kaum pedagang untuk berdakwah, semakin mempercepat perkembangan Islam di Indonesia. Bagi mereka, berdakwah adalah kewajiban bagi siapa pun termasuk mereka para pedagang, sehingga bukan hanya kewajiban bagi ulama saja.
Penyebaran agama Islam di Indonesia oleh para ulama tidak langsung disampaikan kepada rakyat biasa. Pada umumnya tetapi melalui tahapan/ urutan sebagai berikut:
a. Pedagang
Pedagang-pedagang yang merupakan penduduk asli Indonesia langsung mendapat pengaruh dari agama Islam atau pedagang-pedagang Islam yang datang ke Indonesia. Melalui interaksi langsung antar pedagang muslim dan pedagang pribumi, terjadi dialog dan hubungan yang intensif, yang kemudian dimanfaatkan untuk para pedagang muslim untuk menyampaikan dakwahnya kepada pedagang pribumi.
b. Bangsawan
Para bangsawan (adipati atau raja-raja) adalah pemilik modal, pemegang jabatan sekaligus, selain golongan yang mampu membeli barang dagangan mewah, sekaligus pemegang monopoli perdagangan di pelabuhan. Merekalah yang biasanya berinteraksi langsung dengan para pedagang muslim.
c. Para Wali atau Ulama
Wali ini biasanya sebelum berperan menyebarkan Islam, mereka bertugas sebagai penasehat raja-raja yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan juga dengan pedagang-pedagang Islam.
d. Rakyat (masyarakat)
Masyarakat mendapat pengaruh Islam paling akhir. Rakyat biasanya mendapat pengaruh dari para wali dan ulama melalui dakwah juga dari para bangsawan yang menjadi penguasa di wilayah tersebut.
Islam disebarkan melalui jalan damai dan jalan militer. Namun di Indonesia, Islam masuk lebih melalui jalan damai atau melalui jalan berdakwah. Secara umum, Islam masuk ke Indonesia disampaikan dengan jalan damai melalui banyak cara, yaitu: lewat perdagangan, pernikahan, pendidikan serta budaya.
1. Penyebaran Islam melalui perdagangan
Agama Islam dibawa ke Indonesia oleh para pedagang. Selain melakukan transaksi perdagangan, para pedagang pun memanfaatkan waktu berinteraksi dengan penduduk asli dengan pergaulan sehari-hari saat singgah ke suatu daerah atau suatu wilayah di Indonesia. Para pedagang ini, menurut sumber catatan yang ada, adalah para saudagar muslim yang berasal dari Gurajat, Arab, Persia.
Masuknya Islam ke Indonesia melalui perdagangan terjadi pada abad ke 7 M sampai abad ke 16 M, yaitu sejalan dengan ramainya lalu lintas perdagangan laut internasional. Ajaran Islam ini diterima oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir pantai utara. Melalui saudagar inilah agama Islam berkembang pesat ditandai dengan adanya kerajaan Islam di pesisir pantai.
2. Penyebaran Islam melalui pernikahan
Para pedagang muslim yang datang ke Indonesia (pedagang Gurajat, Arab dan Persia) ada yang sekedar berdagang kemudian kembali ke negerinya dan ada pula yang menetap di Indonesia. Sumber-sumber Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan muslim dipesisir pantai Sumatra. Dari perkampungan ini para penganut Islam berinteraksi dan berasimilasi dengan penduduk pribumi sembari menyebarkan agama Islam. Selain menetap, mereka juga menikah dengan wanita-wanita Indonesia terutama putri raja dan bangsawan. Karena pemikahan itulah maka banyak keluarga raja bangsawan masuk Islam.
Perkawinannya dilangsungkan secara Islami. Di mana sebelum perkawinan berlangsung, para wanita penduduk asli terlebih dahulu masuk Islam dengan menjadi seorang mualaf. Dengan perkawinan ini lingkungan Islam makin luas, kelompok kecil masyarakat muslim ini lambat laun semakin besar dan berkembang dari komunitas kecil menjadi komunitas besar yang akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
3. Penyebaran Islam melalui pengajaran dan pendidikan
Penyebaran Islam melalui pendidikan dan pengajaran adalah dengan didirikannya pesantren oleh para ulama. Selain datangnya para pemuda dari berbagai penjuru wilayah untuk belajar di pesantren tersebut, pesantren ini keberadaannya juga sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat sekitar pesantren tersebut. Masyarakat menjadi tunduk atau taat dengan para kiai atau ulama di tempat tersebut, dan memudahkan dakwah Islam menjadi lebih diterima lagi di masyarakat.
Para wali dan ulama mendirikan pondok-pondok pesantren, hingga banyak pemuda-pemuda dari daerah dan dari berbagai macam kalangan masyarakat banyak menerima agama Islam. Setelah selesai, mereka menjadi mubaligh, mendirikan pondok pesantren di daerah mereka sendiri-sendiri.
4. Penyebaran Islam melalui akulturasi dan asimilasi kebudayaan
Terbukanya masyarakat Indonesia terhadap kedatangan Islam, salah satunya dipengaruhi oleh toleransi yang begitu tinggi yang diberikan oleh para ulama kepada budaya atau tradisi setempat yang sebelumnya sudah ada terlebih dahulu. Bahkan tak jarang, budaya setempat dijadikan sarana untuk menyebarkan dakwah Islam. Misalnya, wayang yang sebelumnya merupakan tradisi agama Hindu di Jawa, kemudian dijadikan sarana untuk mengenalkan tentang ajaran Islam melalui pengubahan cerita dan para tokoh wayang yang dilakonkan.
5. Penyebaran Islam melalui tasawuf
Penyebaran Islam yang juga dipakai oleh para ulama adalah melalui sarana tasawuf. Tasawuf adalah jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tasawuf lebih memudahkan orang yang telah memiliki dasar ketuhanan yang lain untuk mengerti dan memahami ajaran Islam. Beberapa ulama penyebar tasawuf adalah Hamzah Fansuri, Syamsudin, Syeik Abdul Shamad dan Nuruddin ar Raniri.
Berbagai sarana yang dipakai para ulama untuk menyebarkan dakwah Islam di Indonesia inilah yang banyak memberikan pengaruh atas penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia. Ditambah dengan semangat luar biasa yang dipegang oleh kaum pedagang untuk berdakwah, semakin mempercepat perkembangan Islam di Indonesia. Bagi mereka, berdakwah adalah kewajiban bagi siapa pun termasuk mereka para pedagang, sehingga bukan hanya kewajiban bagi ulama saja.
Penyebaran agama Islam di Indonesia oleh para ulama tidak langsung disampaikan kepada rakyat biasa. Pada umumnya tetapi melalui tahapan/ urutan sebagai berikut:
a. Pedagang
Pedagang-pedagang yang merupakan penduduk asli Indonesia langsung mendapat pengaruh dari agama Islam atau pedagang-pedagang Islam yang datang ke Indonesia. Melalui interaksi langsung antar pedagang muslim dan pedagang pribumi, terjadi dialog dan hubungan yang intensif, yang kemudian dimanfaatkan untuk para pedagang muslim untuk menyampaikan dakwahnya kepada pedagang pribumi.
b. Bangsawan
Para bangsawan (adipati atau raja-raja) adalah pemilik modal, pemegang jabatan sekaligus, selain golongan yang mampu membeli barang dagangan mewah, sekaligus pemegang monopoli perdagangan di pelabuhan. Merekalah yang biasanya berinteraksi langsung dengan para pedagang muslim.
c. Para Wali atau Ulama
Wali ini biasanya sebelum berperan menyebarkan Islam, mereka bertugas sebagai penasehat raja-raja yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan juga dengan pedagang-pedagang Islam.
d. Rakyat (masyarakat)
Masyarakat mendapat pengaruh Islam paling akhir. Rakyat biasanya mendapat pengaruh dari para wali dan ulama melalui dakwah juga dari para bangsawan yang menjadi penguasa di wilayah tersebut.
Kedatangan Islam di Indonesia
A. Indonesia Sebelum Kedatangan Islam
Beratus-ratus tahun sebelum masuknya Islam, di Indonesia terdapat berbagai kepercayaan paganis, baik animisme maupun dinamisme. Kepercayaan ini sudah sangat mendarah daging dan berakar kuat di tengah masyarakat. Meski demikian kedatangan Islam disambut dengan baik di tengah masyarakat Indonesia. Meski ajaran Islam bertentangan dengan apa yang mereka percayai selama itu, namun akhirnya ajaran Islam dapat diterima. Selain karena kegigihan perjuangan dakwah para ulama dan juru dakwah lainnya, namun juga dikarenakan adanya toleransi dari ulama atas berbagai tradisi-budaya lama yang dipertahankan meski mereka memeluk agama Islam. Misalkan, tradisi Jawa seperti Wayang, Labuhan, Sekatenan, Suronan (peringatan 1 Suro/1 Muharram) yang mengawinkan antara tradisi Hindu-Budha dan nilai-nilai ajaran Islam.
Masuknya agama Islam di Nusantara sedikit banyak juga mempengaruhi perkembangan tradisi dan budaya tersebut. Hal itu disebabkan ketika Islam masuk di Nusantara sudah ada tradisi dan budaya yang dijalankan oleh masyarakat setempat. Namun sampai saat ini ajaran Islam masih memberi warna yang cukup kental atas berbagai tradisi di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang dahulunya berdiri kerajaan bernuansa Islam mulai dari Aceh sampai Maluku.
B. Proses Masuknya Islam ke Indonesia
Islam adalah agama yang dibawa Rasululah Muhammad SAW, yang merupakan penyempurna dari agama-agama yang lain. Awal penyebaran agama Islam dimulai dari kota Makkah dan Madinah sebelum menyebar ke negara-negara benua Asia, Afrika, dan Eropa. Penyebaran dan berkembangnya agama Islam ke seluruh penjuru dunia tidak lepas dari andil dari para pedagang.
Menurut beberapa sumber, Islam masuk ke Indonesia mulai abad ke-7 dan dapat berkembang pesat di wilayah Indonesia pada abad ke-12. Agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang, khususnya pedagang dari Gujarat, Arab dan Persia.
Kapan masuknya Islam ke Indonesia? Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab secara tepat, hal ini dikarenakan sedikitnya peninggalan catatan-catatan sejarah yang menerangkan tentang kedatangan Islam di Indonesia. Namun, beberapa ahli yang memiliki sumber catatan yang paling kuat, menunjukkan adanya dua teori yang menerangkan kapan Islam datang di Indonesia. Teori pertama menyatakan bahwa Islam datang Indonesia pada abad ke-7 M atau pada abad pertama Hijriyah, sedang teori ke dua menerangkan bahwa Islam datang di Indonesia pada abad ke-13 M.
Teori yang menyatakan bahwa Islam datang di Indonesia pada abad ke-7 didukung oleh adanya fakta-fakta:
1). Catatan Sejarah Kerajaan Cina
Menurut cataan ini, pada jaman dinasti Tang, terdapat rencana orang-orang Ta-shih untuk menyerang kerajaan Holing yang diperintah oleh Ratu Sima pada tahun 674 M. Namun, rencana itu akhirnya batal setelah mengetahui kuatnya pemerintahan yang dipimpin oleh Ratu Sima tersebut. Sebutan Ta-shih dalan catatan itu ditafsirkan sebagai orang-orang Arab.
2). Berita Chou Ku-Fei (1178 M)
Menurut berita ini, di Indonesia saat itu terdapat dua tempat yang menjadi basis komunitas orang-orang Ta-shih, yaitu: Fo-lo-an dan Sumatra Selatan. Keduanya merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Fo-lo-an sekarang lebih dikenal dengan nama daerah Kuala Brag, Trengganu, Malaysia. Dari catatan sejarawan mengungkapkan, istilah Po-tse ditafsirkan sebagai bangsa Melayu dan Ta-shih ditafsirkan sebagai orang Arab dan Persia.
Sementara teori ke dua menyatakan bahwa Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke tiga belas. Pendapat ini didasarkan pada munculnya Kerajaan Samudera Pasai yang bercorak Islam, pada abad ke tiga belas. Teori ini berdasarkan pada bukti-bukti:
1). Catatan Perjalanan Marco Polo (1292 M)
Catatan ini menerangkan bahwa Marco Polo melakukan perjalanan sampai ke Sumatra bagian utara. Saat itu, Marco Polo sempat singgah ke Kerajaan Islam Samudera Pasai dalam pelayaran sekembalinya dari Eropa dan Cina.
2). Berita Ibnu Battutah
Terdapat berita Ibnu Battutah pada abad ke-13 M serta adanya batu nisan Sultan Malik as Saleh yang ditemukan di Sumatra bagian utara dan mencantumkan tahun Ramadhan 676 H atau 1297 M. Sultan Malik As Saleh dikenal sebagai seorang pengajar tasawuf yang kemudian dikenal sebagai raja Kerajaan Samudera Pasai.
Adanya dua teori di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya proses masuknya Islam di Indonesia tidak terjadi secara bersamaan di berbagai daerah. Di tiap-tiap daerah atau pulau mendapatkan pengaruh masuknya Islam sesuai dengan datangnya para juru dakwah yang datang ke wilayah tersebut. Namun demikian, para sejarawan sepakat bahwa pengaruh Islam pertama kali muncul di Pulau Sumatra. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan di pulau itu sebagai sebuah kerajaan Islam.
Berikut disampaikan beberapa bukti untuk memastikan masuknya Islam di Indonesia antara lain:
1. Surat Raja Sriwijaya
Salah satu bukti baru tentang masuknya Islam ke Indonesia dikemukakan oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Nusantara. Dalam buku itu, Azyumardi menyebutkan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia pada masa Kerajaan Sriwijaya. Hal ini dibuktikan dengan adanya surat yang dikirim oleh Raja Sriwijaya kepada Umar bin Khattab yang berisi ucapan selamat atas terpilihnya Umar bin Khattab sebagai pemimpin Islam menggantikan Abu Bakar.
2. Makam Fatimah binti Maimun
Berdasarkan hasil penelitian sejarah, telah ditemukan sebuah makam Islam di Leran, Gresik. Pada batu nisan dan makam tersebut tertulis nama seorang wanita, yaitu Fatimah binti Maimun dan angka tahun 1082. Artinya, dapat dipastikan bahwa pada akhir abad Xl, Islam telah masuk ke Indonesia. Dengan demikian, dapat diduga bahwa Islam telah masuk dan berkembang di Indonesia sebelum tahun 1082.
3. Makam Sultan Malik Al-Saleh
Makam Sultan Malik Al-Saleh yang berangka tahun 1297 merupakan bukti bahwa Islam telah masuk dan berkembang di daerah Aceh pada abad XIII. Mengingat Malik Al-Saleh adalah seorang sultan, maka dapat diperkirakan bahwa Islam telah masuk ke daerah Aceh jauh sebelum Malik Al-Saleh mendirikan Kesultanan Samudera Pasai.
4. Cerita Marcopolo
Pada tahun 1092, Marcopolo seorang musafir dan Venesia (ltalia) singgah di Perlak dan beberapa tempat di Aceh bagian Utara. Marcopolo sedang melakukan perjalanan dan Venesia ke negeri Cina. Ia menceritakan bahwa pada abad Xl, Islam telah berkembang di Sumatera bagian Utara. Ia juga menceriterakan bahwa Islam telah berkembang sangat pesat di Jawa.
5. Cerita Ibnu Batutah
Pada tahun 1345, lbnu Batutah mengunjungi Samudera Pasai. Ia menceritakan bahwa Sultan Samudera Pasai sangat baik terhadap ulama dan rakyatnya. Di samping itu, ia menceritakan bahwa Samudera Pasai merupakan kesultanan dagang yang sangat maju. Di sana, lbnu Batutah bertemu dengan para pedagang dan India, Cina, dan para pedagang dari Jawa.
6. Pendapat lain
Beberapa waktu terakhir ini berkembang pendapat baru bahwa Islam sebenarnya telah datang dan berkembang di kawasan Nusantara pada abad VII-VIII atau abad I tahun Hijriah. Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa masyarakat Indonesia telah menjalin hubungan dagang dengan banga-bangsa India, Cina, dan Arab (khususnya Persia). Bahkan kalau ditelusur pada awal abad Masehi orang-orang Yunani telah mengenal Nusantara. Tercatat dalam peta yang disusun oleh Ptolomeus, nama-nama seperti Tabih, Argue, Posi Lam Wuli, Rommi, Lameri.
Beratus-ratus tahun sebelum masuknya Islam, di Indonesia terdapat berbagai kepercayaan paganis, baik animisme maupun dinamisme. Kepercayaan ini sudah sangat mendarah daging dan berakar kuat di tengah masyarakat. Meski demikian kedatangan Islam disambut dengan baik di tengah masyarakat Indonesia. Meski ajaran Islam bertentangan dengan apa yang mereka percayai selama itu, namun akhirnya ajaran Islam dapat diterima. Selain karena kegigihan perjuangan dakwah para ulama dan juru dakwah lainnya, namun juga dikarenakan adanya toleransi dari ulama atas berbagai tradisi-budaya lama yang dipertahankan meski mereka memeluk agama Islam. Misalkan, tradisi Jawa seperti Wayang, Labuhan, Sekatenan, Suronan (peringatan 1 Suro/1 Muharram) yang mengawinkan antara tradisi Hindu-Budha dan nilai-nilai ajaran Islam.
Masuknya agama Islam di Nusantara sedikit banyak juga mempengaruhi perkembangan tradisi dan budaya tersebut. Hal itu disebabkan ketika Islam masuk di Nusantara sudah ada tradisi dan budaya yang dijalankan oleh masyarakat setempat. Namun sampai saat ini ajaran Islam masih memberi warna yang cukup kental atas berbagai tradisi di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang dahulunya berdiri kerajaan bernuansa Islam mulai dari Aceh sampai Maluku.
B. Proses Masuknya Islam ke Indonesia
Islam adalah agama yang dibawa Rasululah Muhammad SAW, yang merupakan penyempurna dari agama-agama yang lain. Awal penyebaran agama Islam dimulai dari kota Makkah dan Madinah sebelum menyebar ke negara-negara benua Asia, Afrika, dan Eropa. Penyebaran dan berkembangnya agama Islam ke seluruh penjuru dunia tidak lepas dari andil dari para pedagang.
Menurut beberapa sumber, Islam masuk ke Indonesia mulai abad ke-7 dan dapat berkembang pesat di wilayah Indonesia pada abad ke-12. Agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang, khususnya pedagang dari Gujarat, Arab dan Persia.
Kapan masuknya Islam ke Indonesia? Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab secara tepat, hal ini dikarenakan sedikitnya peninggalan catatan-catatan sejarah yang menerangkan tentang kedatangan Islam di Indonesia. Namun, beberapa ahli yang memiliki sumber catatan yang paling kuat, menunjukkan adanya dua teori yang menerangkan kapan Islam datang di Indonesia. Teori pertama menyatakan bahwa Islam datang Indonesia pada abad ke-7 M atau pada abad pertama Hijriyah, sedang teori ke dua menerangkan bahwa Islam datang di Indonesia pada abad ke-13 M.
Teori yang menyatakan bahwa Islam datang di Indonesia pada abad ke-7 didukung oleh adanya fakta-fakta:
1). Catatan Sejarah Kerajaan Cina
Menurut cataan ini, pada jaman dinasti Tang, terdapat rencana orang-orang Ta-shih untuk menyerang kerajaan Holing yang diperintah oleh Ratu Sima pada tahun 674 M. Namun, rencana itu akhirnya batal setelah mengetahui kuatnya pemerintahan yang dipimpin oleh Ratu Sima tersebut. Sebutan Ta-shih dalan catatan itu ditafsirkan sebagai orang-orang Arab.
2). Berita Chou Ku-Fei (1178 M)
Menurut berita ini, di Indonesia saat itu terdapat dua tempat yang menjadi basis komunitas orang-orang Ta-shih, yaitu: Fo-lo-an dan Sumatra Selatan. Keduanya merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Fo-lo-an sekarang lebih dikenal dengan nama daerah Kuala Brag, Trengganu, Malaysia. Dari catatan sejarawan mengungkapkan, istilah Po-tse ditafsirkan sebagai bangsa Melayu dan Ta-shih ditafsirkan sebagai orang Arab dan Persia.
Sementara teori ke dua menyatakan bahwa Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke tiga belas. Pendapat ini didasarkan pada munculnya Kerajaan Samudera Pasai yang bercorak Islam, pada abad ke tiga belas. Teori ini berdasarkan pada bukti-bukti:
1). Catatan Perjalanan Marco Polo (1292 M)
Catatan ini menerangkan bahwa Marco Polo melakukan perjalanan sampai ke Sumatra bagian utara. Saat itu, Marco Polo sempat singgah ke Kerajaan Islam Samudera Pasai dalam pelayaran sekembalinya dari Eropa dan Cina.
2). Berita Ibnu Battutah
Terdapat berita Ibnu Battutah pada abad ke-13 M serta adanya batu nisan Sultan Malik as Saleh yang ditemukan di Sumatra bagian utara dan mencantumkan tahun Ramadhan 676 H atau 1297 M. Sultan Malik As Saleh dikenal sebagai seorang pengajar tasawuf yang kemudian dikenal sebagai raja Kerajaan Samudera Pasai.
Adanya dua teori di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya proses masuknya Islam di Indonesia tidak terjadi secara bersamaan di berbagai daerah. Di tiap-tiap daerah atau pulau mendapatkan pengaruh masuknya Islam sesuai dengan datangnya para juru dakwah yang datang ke wilayah tersebut. Namun demikian, para sejarawan sepakat bahwa pengaruh Islam pertama kali muncul di Pulau Sumatra. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan di pulau itu sebagai sebuah kerajaan Islam.
Berikut disampaikan beberapa bukti untuk memastikan masuknya Islam di Indonesia antara lain:
1. Surat Raja Sriwijaya
Salah satu bukti baru tentang masuknya Islam ke Indonesia dikemukakan oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Nusantara. Dalam buku itu, Azyumardi menyebutkan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia pada masa Kerajaan Sriwijaya. Hal ini dibuktikan dengan adanya surat yang dikirim oleh Raja Sriwijaya kepada Umar bin Khattab yang berisi ucapan selamat atas terpilihnya Umar bin Khattab sebagai pemimpin Islam menggantikan Abu Bakar.
2. Makam Fatimah binti Maimun
Berdasarkan hasil penelitian sejarah, telah ditemukan sebuah makam Islam di Leran, Gresik. Pada batu nisan dan makam tersebut tertulis nama seorang wanita, yaitu Fatimah binti Maimun dan angka tahun 1082. Artinya, dapat dipastikan bahwa pada akhir abad Xl, Islam telah masuk ke Indonesia. Dengan demikian, dapat diduga bahwa Islam telah masuk dan berkembang di Indonesia sebelum tahun 1082.
3. Makam Sultan Malik Al-Saleh
Makam Sultan Malik Al-Saleh yang berangka tahun 1297 merupakan bukti bahwa Islam telah masuk dan berkembang di daerah Aceh pada abad XIII. Mengingat Malik Al-Saleh adalah seorang sultan, maka dapat diperkirakan bahwa Islam telah masuk ke daerah Aceh jauh sebelum Malik Al-Saleh mendirikan Kesultanan Samudera Pasai.
4. Cerita Marcopolo
Pada tahun 1092, Marcopolo seorang musafir dan Venesia (ltalia) singgah di Perlak dan beberapa tempat di Aceh bagian Utara. Marcopolo sedang melakukan perjalanan dan Venesia ke negeri Cina. Ia menceritakan bahwa pada abad Xl, Islam telah berkembang di Sumatera bagian Utara. Ia juga menceriterakan bahwa Islam telah berkembang sangat pesat di Jawa.
5. Cerita Ibnu Batutah
Pada tahun 1345, lbnu Batutah mengunjungi Samudera Pasai. Ia menceritakan bahwa Sultan Samudera Pasai sangat baik terhadap ulama dan rakyatnya. Di samping itu, ia menceritakan bahwa Samudera Pasai merupakan kesultanan dagang yang sangat maju. Di sana, lbnu Batutah bertemu dengan para pedagang dan India, Cina, dan para pedagang dari Jawa.
6. Pendapat lain
Beberapa waktu terakhir ini berkembang pendapat baru bahwa Islam sebenarnya telah datang dan berkembang di kawasan Nusantara pada abad VII-VIII atau abad I tahun Hijriah. Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa masyarakat Indonesia telah menjalin hubungan dagang dengan banga-bangsa India, Cina, dan Arab (khususnya Persia). Bahkan kalau ditelusur pada awal abad Masehi orang-orang Yunani telah mengenal Nusantara. Tercatat dalam peta yang disusun oleh Ptolomeus, nama-nama seperti Tabih, Argue, Posi Lam Wuli, Rommi, Lameri.
Thursday, May 17, 2012
Kerajaan Islam di Sulawesi
Kerajaan Makasar
Kerajaan Makasar sebenamya merupakan dua kerajaan di Sulawesi Selatan yang terjalin dengan sangat baik, yaitu antara Kerajaan Gowa dan Tallo.
Makassar sendiri sebenarnya merupakan ibukota Kerajaan Gowa yang juga dikenal dengan Ujung Pandang.
• Perkembangan secara politik
Kerajaan Makassar terletak di perairan timur Indonesia, yaitu di daerah semenanjung barat daya Sulawesi. Pada masanya Kerajaan Makassar merupakan kerajaan maritim yang terkenal. Sebagai penghasil rempah-rempah, Kerajaan Makassar membentuk jalur perdagangan laut Nusantara yang sangat terkenal pada abad ke 16 sampai 17 M. Kerajaan Makassar menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Ternate di Maluku.
Sebelum abad ke 16, raja-raja Makassar belum tersentuh dakwah Islam. Setelah kedatangan Dato’ Ri Bandang, seorang ulama dari Sumatra, Kerajaan Makassar kemudian berkembang menjadi Kerajaan Islam.
Raja I Kerajaan Makassar yang memeluk agama Islam adalah Sultan Alauddin yang berkuasa pada tahun 1591-1638 M. Sebelumnya Sultan Alauddin memiliki nama asli Karaeng Ma’towaya Tumamenanga ri Agamanna. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan maritim. Dengan majunya perdagangan dan pelayaran, kehidupan rakyat Kerajaan Makassar mengalami kemajuan.
Pengganti Sultan Alauddin adalah Muhammad Said yang berkuasa pada tahun 1639-1653 M. Tidak banyak catatan sejarah yang ditinggalkan mengenai masa pemerintahan Muhammad Said ini. Pengganti Muhammad Said yang menjadi raja Kerajaan Makassar berikutnya adalah Sultan Hasanuddin yang berkuasa pada tahun 1653-1669 M.
Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Makassar mengalami puncak kejayaan. Sultan Hasannuddin melakukan ekspansi wilayah-wilayah lain ke kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi Selatan, seperti Luwu, Wajo, Soppeng dan Bone. Setelah berhasil menguasai wilayah-wilayah tersebut, Sultan Hasanuddin bermaksud menguasai jalur perdagangan Indonesia bagian timur yang saat itu dikuasai oleh VOC Belanda terutama di daerah Maluku. Pertempuran yang terjadi antara Kerajaan Makassar dan Belanda di Maluku, mempengaruhi kegiatan perdagangan Belanda di Batavia.
Belanda berusaha menghentikan serangan-serangan Kerajaan Makassar dengan mengajak Kerajaan Bone untuk bersekutu. Setelah Kerajaan Bone dijanjikan akan diberi kemerdekaan, maka raja Bone, yaitu Aru Palaka membantu Belanda dalam menghadapi Kerajaan Makassar. Pada tahun 1667 M, Belanda dengan bantuan Kerajaan Bone berhasil memaksa Sultan Hasanudin menandatangani Perjanjian Bongaya yang isinya:
i. Belanda mendapatkan hak monopoli dagang di Makassar
ii. Belanda diperbolehkan mendirikan benteng Rotterdam di Makassar
iii. Makassar harus melepaskan kerajan-kerajaan yang ditaklukkannya seperti Soppeng dan Bone serta mengakui Aru Palaka sebagai Raja Bone
Karena kegigihannya dalam melawan Belanda inilah, Sultan Hasanuddin dijuluki sebagai Ayam Jantan dari Timur. Sultan Hasanuddin kemudian turun tahta pada tahun 1669 M digantikan oleh putranya, Mapasomba. Meneruskan perjuangan sang ayah, Mapasomba berusaha melakukan perlawanan kepada Belanda, namun ia mengalami kekalahan. Akhirnya pasukan Kerajaan Makassar berhasil dipukul mundur dan Belanda pun menguasaai Kerajaan Makassar dan jalur perdagangannya.
• Perkembangan secara ekonomi
Sebagaimana kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara lainnya, Kerajaan Makassar adalah negara maritim. Sebagai kerajaan dengan memiliki wilayah kepulauan, para pelaut Makassar terkenal sangat tangguh. Bahkan mereka menguasai jalur perdagangan dan pelayaran di wilayah Nusantara. Hal ini ditunjang juga dengan keahlian masyarakat Makassar dalam menesain berbagai bentuk kapal yang kuat sekaligus indah. Kapal-kapal tersebut dikenal dengan nama Pinisi, Lambo dan Padewalang yang dapat mengarungi perairan Nusantara bahkan ke ke berbagai wilayah di luar Nusantara, seperti India dan Cina. Kerajaan Makassar dalam mengatur kegiatan perdagangan di wilayahnya, memiliki aturan yang kenal dengan nama Ade Allopiloping Bucaranna Pabbahi’e.
Sementara itu, letaknya yang berdekatan dengan Maluku, yang merupakan pusat penghasil rempah-rempah menyebabkan Kerajaan Makassar menjadi pelabuhan penyalur dan sebagai gudang penyimpanan. Kondisi strategis inilah yang menyebabkan Kerajaan Makassar berniat mengusir Belanda dari Maluku pada awal abad ke -17 M.
• Perkembangan secara budaya
Serupa dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara, Kerajaan Islam Makassar juga mengadopsi hukum dan ajaran agama Islam dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Pemerintahan Kerajaan Makassar juga menjalin hubungan yang erat dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara, seperti Kerajaan Demak dan Kerajaan Malaka.
Sebagai bangsa Maritim, masyarakat Makassar memiliki keahlian membuat sarana pelayaran. Kapal-kapal Kerajaan Makassar tidak hanya dibuat untuk berdagang saja, akan tetapi juga dijadikan sebagai kapal untuk berperang di laut. Kapal-kapal khas makassar seperti Pinisi bahkan masih digunakan sampai sekarang. Teknologi perkapalan Makassar menunjukkan salah satu sisi yang tampak dari ketinggian budaya masyarakat Makassar.
Subscribe to:
Posts (Atom)